Jumaat, 23 Januari 2009

Sajak: Jawapan Sebuah diari sepi

"Teman,
Di waktu awan kelabu,
hati jadi resah,
namun masa melewati barisnya tanpa menunggu
Takdir menjadikan kita hak menerima

Teman,
Tiada insan mahu dilupakan,
Jika ikhlas hati pasti dikenang ke hujung nyawa
namun cukuplah Dia sahaja menilainya

Teman,
Di hujung usia memori semalam datang mengamit rasa
sesuatu yang dilupakan terasa amat pedih
namun cukuplah Dia sahaja menilainya
cukuplah ketenangan jadi teman jalan hidup
cukuplah keredhaanNya jadi tiang kedamaian

Teman,
Percayalah sesuatu yang suci hati
tetap melahirkan keabadian, kesetiaan, dan kasih sayang
sesungguhnya, bagi Dia adalah hambanya yang paling beriman dan bertakwa..

Memerhati yang tersayang tidur

"Melihat orang yang kita sayang pada saat dia tidur...

Renungkan/lihatlah betapa sayangnya kita pada mereka...
Pernahkah anda menatap orang-orang yang anda sayang saat mereka sedang tidur? Kalau belum, cubalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun akan tampak polos dan jauh berbeza jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat dan gagah itu kini semakin tua dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. ...
Lihatlah ibu anda.... Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan
yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar kerana menempuhi kehidupan yang mencabar demi kita. Orang inilah yang tiap hari menguruskan keperluan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan membebeli kita semata- mata kerana rasa kasih dan sayang, dan sayangnya itu sering kita salah ertikan.

Cubalah menatap wajah orang-orang yang kita cintai.. sayangi itu... Ayah, Ibu, Suami, Isteri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan-lahan saat menatap wajah mereka yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk
kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang-kadang tertutupi oleh salah faham kecil yang entah Kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu akan tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan serta memenatkan mereka namun enggan mereka ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun membantu untuk mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia
berkata... "betapa lelahnya..penatnya aku hari ini".
Dan penyebab lelah dan penat itu? Untuk siapa dia berpenat lelah Tak lain adalah KITA.....

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, isteri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah menemani hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan rasa terharu seketika menerpa jika
mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya, untuk selamanya ... "

Airmata seorang Nabi, kerana Umatnya

"Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut.

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah.

"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.” Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan Kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggil Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan risau, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat sungguh maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Sahabat-sahabat muslim sekalian, marilah kita renungkan kembali pengorbanan Rasulullah kepada umatnya lainnya, betapanya cintanya Rasulullah kepada umatnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Bisikan Dunia

"Tika muazzin melaungkan azan,
Remaja muslim masih berkeliaran,,
Bagaikan laungan kosong tidak bermakna,
Tidak diendahkan pendengar

Solat dikira amalan orang tua,
Dosa dan pahala bukan persoalan,
Betapa ego dan tulinya mereka,
Walaupun mengetahui kewajipannya

Tika muazzin melaungkan azan,
Pasangan belia muslim berarakan,
Melintasi sebuah rumah ALLAH,
Menyertai pesta di panggung
dan lebuh raya,
Bagaikan ianya adat yang utama,
Mati tak pernah menggerunkan mereka,
Takwa itu sesuatu yang memalukan,
Betapa butanya mereka

Tika muazzin melaungkan azan,
Muslimin-muslimah berpusu-pusu,
Ke pasar malam dan pasaraya,
Menyahut tawaran istimewa,
Bagai itulah waktu afdal berbelanja,
Akhirat begitu jauh di hati mereka,
Iman kian tipis dan pudar,
Betapa alpanya mereka

Semakin canggih penunjuk waktu,
Semakin lantang pembesar suara,
Semakin tersergam rumah-rumah ALLAH,
Namun…telah dibutakan,ditulikan oleh
“Bisikan Dunia”.

~siapakah aku ini~

kehidupan ini,
Tiada satu pun yang kekal..
kecantikan, kekayaan..
semuanya hanyalah pinjaman..

Oleh itu,
sahabat2ku..
sedarilah..
renungilah..
jangan sekali2 dikau alpa..
dengan anugerah dariNya..

Kerna..
bila2 sahaja..
ia akan hilang..
bila2 sahaja ia akan luput..
ingatlah wahai diriku dan juga sahabat2ku..

"

Umat Islam Umpama Buih

"Dunia Islam kian tercabar; dicabar dan dihina oleh musuh-musuh islam. Umat Islam tidak dapat berbuat apa-apa melihat saudara seagamanya ditindas. Hal ini sudah dapat diramal oleh Nabi Muhammad saw sejak dulu lagi, dalam hadithnya:

"Umat lain akan meratah kamu dengan rakus sebagaimana anjing-anjing yang mengelilingi hidangan makanan. Sahabat bertanya adakah kerana bilangan umat islam yang sedikit? Baginda menjawab Tidak, bahkan jumlah kamu masa itu banyak sebagaimana banyaknya buih di permukaan air banjir. Allah mengikis perasaan gerun di dalam hati musuh terhadap kamu 'al-wahan'. Sahabat bertanya apa dia wahan itu ya Rasulullah. Jawab baginda "cintakan dunia dan bencikan akhirat".

Mari kita renung sejenak tentang kebenaran sabda Rasulullah ini. Jumlah umat Islam pada hari ini mencecah lebih 1 billion, satu angka yang ramai. Mereka bertebaran di muka bumi ini; kebanyakannya tinggal di negara yang dikurniakan Allah hasil bumi yang lumayan.

Sumber ekonomi yang kukuh dan tenaga kerja yang ramai boleh menjadi aset memajukan negara dan sekaligus memartabatkan Islam sehingga disegani seantero dunia. Persoalannya ialah Kenapa faktor-faktor ini tidak dimanfaatkan? Kenapa umat Islam kini menjadi lemah dan mudah diperkotak-katikkan oleh musuh-musuh Islam? Sebaliknya musuh Islam yang mempunyai kedudukan ekonomi yang kukuh menjalankan pelbagai strategi melumpuhkan dan memporak-perandakan negara Islam.

Hasil kekayaan bumi milik negara Islam dieksploit oleh musuh Islam. Negara Iraq yang kaya dengan sumber minyak dijajah dalam pelbagai bentuk hinggakan minyak sendiri pun tak boleh dijual untuk kegunaan rakyat. Kekayaan yang mereka perolehi hasil bumi negara Islam digunakan bagi membina kilang-kilang senjata untuk membunuh umat islam.

Nabi menjelaskan punca kelemahan ini ialah wujudnya kecintaan kepada dunia mengatasi kecintaan kepada akhirat. Apabila kecintaan ini meresap dan menjadi budaya hidup umat, Allah memasukkan perasaan berani dalam hati musuh Islam dan pada masa yang sama mencabut keberanian itu dalam hati orang Islam lalu digantikan dengan perasaan penakut: takut kepada musuh Islam.

Kejatuhan Baghdad ketika diserang oleh orang-orang Mongol sepatutnya dijadikan teladan supaya peristiwa hitam ini tidak akan berulang kembali. Adakah faktor-faktor kejatuhan Baghdad mula meresap dalam masyarakat dewasa ini. Masalah rasuah sekarang semakin menjadi. Ia telah meresap dalam pelbagai organisasi kepimpinan. Keadaan begini memudahkan musuh Islam menggunakan wang ringgit untuk membeli pucuk pimpinan supaya tercapai hasrat mereka melumpuhkan umat Islam sendiri. Jika dibiarkan berleluasa bukan saja ekonomi umat islam merudum malahan negara juga turut tergadai.

Bagaimana keadaan realiti masyarakat Islam sekarang? Sudahlah ekonomi lemah ditokok pula dengan pelbagai penyakit dan gejala sosial. Bagaimana dapat membasmi keruntuhan akhlak sekiranya media massa semakin galak menonjolkan isu-isu ganas dan seks. Isu pemulihan hanya sekadar melepas batuk di tangga dan seolah-olah 'lain sakit lain pula ubat yang diberi'.

Pelancaran TV Mega dan Astro serta alat komunikasi lain bukan menjadi ubat gejala sosial dewasa ini malah menjadikannya lebih kronik. Babak-babak yang tidak sepatutnya ditonton sudah menjadi semakin lumrah dan video lucah pula dapat dibeli oleh sesiapa sahaja. Bukankah ini menjadi pemangkin ke arah gejala yang lebih dahsyat? Umat Islam kini tidak mempunyai ketahanan dan iman yang kuat untuk menangkis serangan yang hebat ini. Semua ini adalah antara strategi dan perancangan musuh Islam yang tidak akan redha terhadap perkembangan Islam selamanya. Bayangkan apa yang akan berlaku beberapa tahun lagi dengan kemunculan teknologi IT yang semakin canggih.

Firman Allah dalam Al-Quran "Orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak redha terhadap kamu buat selama-lamanya sehinggalah kamu mengikut cara hidup mereka."

Masjid kian terpinggir dengan kewujudan kilang yang banyak. Manusia lebih suka ke kilang daripada masjid. Kilang diimarahkan siang dan malam tetapi masjid menjadi lengang,cuma diimarahkan dengan karpet dan keceriaan. Bukankah ini juga perancangan musuh islam? Lantaran cinta kepada dunia sanggup menjauhi masjid dan berkejaran ke kilang.

Dalam hadith tadi, Nabi memberi 2 faktor berlakunya begini: cintakan dunia dan benci kepada mati. Umat Islam generasi pertama dulu cintakan mati kerana dapat bertemu dengan Allah segera. Oleh sebab itu bila ada panggilan jihad, mereka sukarela bergabung tenaga memerangi musuh Islam. Mereka tidak takut menghadapi mati. Sebaliknya masyarakat Islam hari ini takut kepada mati malahan mengingatkan mati pun dianggap menyekat kemajuan. Mereka takut mati kerana memikirkan dosa yang terlalu banyak dilakukan dan sedikitnya amalan pahala yang dibuat. Akhirnya semangat jihad memperjuang dan menegakkan agama Allah pudar dan terhakis.

Oleh itu, sama-samalah kita menginsafi diri dan bertaubat di atas segala keterlanjuran yang kita lakukan. Hanya dengan kembali kepada Allah, segala penyakit akan terubat, insyaallah.

Adakah anda bersyukur?

"Lafaz pujian nikmat kehidupan perlu disertai kesedaran di dalam hati

SUDAH menjadi lumrah ciptaan Allah, setiap manusia dijadikan tidak akan terlepas daripada menerima ujian walau pada saat mana sekali pun tanpa mengira tempat. Bentuk ujian diberi Allah ternyata berbeza di antara satu sama lain.

Ada manusia diuji dengan musibah dan kesusahan seperti rakan kita yang dilanda tsunami dan ancaman gunung berapi. Pada masa sama, ada di kalangan kita yang diuji dengan kemewahan dan hidup bersenang-lenang.

Kedua-dua bentuk ujian ini menuntut manusia untuk bersabar dan bersyukur. Sekiranya manusia ingkar untuk bersabar dan bersyukur, Allah mencabar golongan ini melalui sebuah Hadis Qudsi yang bermaksud: “Sekiranya Aku menguji kamu dengan kesusahan, kamu tidak mahu bersabar, dan sekiranya Aku menguji kamu dengan kenikmatan, kamu tidak mahu bersyukur, maka keluarlah kamu dari bumi dan langit Allah ini dan pergilah kamu mencari tuhan yang lain.”

Pada hakikatnya, apa saja pergolakan dan perubahan berlaku dalam hidup manusia ini tidak akan terlepas daripada dua bentuk ujian iaitu kesusahan dan kenikmatan. Sekali pandang, antara kedua-dua bentuk ujian ini, kita melihat bersabar itu lebih menuntut pengorbanan jika dibandingkan dengan bersyukur. Lazimnya manusia yang ditimpa musibah akan melalui kesusahan, keresahan, tekanan, penderitaan emosi dan jiwa bergelora. Sementara, bersyukur itu nampaknya mudah untuk dilaksanakan berbanding dengan bersabar kerana lazimnya manusia yang dilimpahi dengan kenikmatan dan kesenangan tidak mengalami tekanan dan penderitaan.

Apabila kita menyelak helaian al-Quran, ternyata andaian kita kurang tepat kerana Allah berfirman di dalam surah As-sabar’ ayat 13 yang bermaksud: “Hanya sedikit dari kalangan hamba Ku yang bersyukur”. Kenyataan Allah ini sebenarnya memberi jawapan kepada kita bahawa bersyukur itu lebih sukar dibandingkan dengan bersabar.

Bersyukur bukan semudah melafazkan ‘Alhamdulillah’ tetapi, setiap manusia yang dilimpahi nikmat bertanggungjawab untuk merealisasikan kesyukuran itu dalam semua aspek kehidupan yang meliputi setiap sendi anggota tubuhnya. Selain lidahnya tidak putus-putus melafazkan kalimah ‘Alhamdulillah’, hatinya juga perlu memperakui bahawa segala nikmat diterima itu adalah daripada Allah dan Allah boleh menarik balik nikmat itu pada bila-bila masa saja tanpa sebarang amaran.

Tanpa kesedaran hati, lafaz dilakukan oleh lidah itu tidak memberi kesan apa-apa, bahkan ‘seolah-olah’ mempersendakan nikmat yang diterima itu. rasa bersyukur itu tidak terhenti setakat pengakuan lidah dan hati saja bahkan seluruh kekuatan fizikal dan material yang ada perlu dibuktikan agar kesyukuran itu benar-benar terjelma.

Allah memberi kekayaan material, maka manusia perlu mensyukurinya dengan berbelanja pada jalan yang diredai Allah di samping membantu golongan lain yang tidak bernasib baik. Allah mengurniakan kesihatan dan kekuatan fizikal, maka ia perlu dijelmakan dengan pelaksanaan ibadat fizikal di samping mengorbankan tenaga yang ada untuk jalan kebaktian.

Tahap kesyukuran ini perlu dilalui setiap manusia yang menerima kurniaan daripada Allah, tanpa menyandarkan segala kesenangan, kemewahan, kesihatan dan sebagainya itu sebagai milik dan usaha sendiri. Justeru, pentingnya manusia memahami betapa sukarnya untuk bersyukur ini, maka Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7 yang bermaksud: “Sekiranya kamu bersyukur di atas segala nikmat yang telah Aku kurniakan, nescaya Aku akan menambah lagi nikmat Ku itu. Sebaliknya andai kata engkau kufur terhadap nikmat Ku, ingatlah sesungguhnya seksaan Ku teramatlah pedih.”

Sekiranya kita meninjau tuntutan untuk melaksanakan sabar itu, tidaklah sehebat tuntutan yang diperlukan ketika bersyukur. Lazimnya manusia yang ditimpa musibah memilih bersabar kerana mereka tidak mempunyai banyak pilihan sama ada untuk pasrah dan bersabar di atas ketentuan Allah yang menimpa mereka atau mencabar keadilan Allah. Selagi manusia mempunyai iman di dalam hati, tidak mungkin mereka menafikan keadilan Allah yang memberi musibah dan kesusahan kepada mereka.

Ternyata untuk melaksanakan syukur tidak semudah yang disangka, dan untuk melaksanakan sabar tidak sepayah yang diduga. Selagi manusia memilih untuk taat pada perintah Allah, mereka pasti mampu untuk mengimbangi tuntutan syukur dan sabar ini di dalam diri mereka.